Anak itu duduk didepan rumahnya, rumah kecil yang menghadap utara. Memandangi lapangan kecil sekolah dasar di depan rumahnya, yang sedang berdebu diterpa angin. Dua pohon cemara yang bagian bawahnya gosong berlubang karena sebagai tempat pembakaran sampah, tak hentinya menggugurkan daunnya yang panjang-panjang. Matahari belum juga sampai puncaknya, sekolah libur karena hari ini tanggal merah, anak itu masih memandang kosong kearah lapangan itu, menanti siapapun yang mau bermain. Dia menatap kearah langit, melihat bahwa langit hari ini dipenuhi gumpalan gumpalan awan putih yang bergerak cepat terkena angin.
Anak itu bertemu dengan kawannya, yang membawa alat pancing lengkap dengan umpannya. Cacing dalam gelas bekas air mineral. Anak itu dan kawannya melangkah menuju sungai yang airnya tak begitu deras. Banyak pula anak-anak lain yang sedang mencoba peruntungannya menangkap ikan atau mahluk lain yang tertarik dengan umpannya. Pinggiran sungai itu tercement, dengan tanpa pegangan atau pengaman lain. Mereka duduk tepat dipinggir sungai, dengan kaki menempel diatas pinggiran cement tersebut.
Anak kecil tadi meminjam pancingan temannya. Menempatka umpan diujung kailnya, dan melemparnya kearah sungai. Sesaat kemudian dia duduk seperti temannya yang lain.
Kail tak juga tertarik ikan, kaki anak tersebut kehilangan pijakannya. Badannya merosot kebawah, layaknya bermain prosotan. Tangannya mencoba meraih apapun disekitarnya, namun gagal, dia terlalu cepat merosot. Temannya yang mencoba meraihnya selagi melemparkan gagang pancingnya kebelakang, tak mampu meraih anak itu. Seketika mereka panik. Anak itu tak mampu berenang. Anak tersebut tak mampu berkata apapun karena takutnya. Kakinya mulai menyentuh air sungai. Tangannya tetap mencoba meraih apapun disekitarnya. Gagal dan makin cepat dia merosot. Air sudah setinggi pergelangan kakinya. Temannya mulai berteriak teriak. Anak itu mulai mencoba menahan badannya dengan menempatkan tangannya kebelakang, mencoba mengangkat badannya melawan gravitasi. Air telah sebetisnya. Temannya masih mencoba mencari apa yang bisa dia lakukan. Semua begitu cepat hingga akhirnya tubuhnya sampai ketengah sungai. Dia tak tahu berapa dalam sungai tersebut. Kakinya terlalu panik bergerak hingga tak dicobanya berdiri ditengah sungai tersebut. Mungkin saja sungai tersebut dangkal. Dia mulai mengeluarkan suara tolong, dengan disertai suara air. Anak itu hilang harapan, dan menghentikan gerak badannya, memandang langit yang awannya sudah lebih sedikit dibanding saat dia melihatnya didepan rumah.
Suara cebyur terdengar disamping telinganya, membuat dia memalingkan wajahnya kearah tersebut. Wajahnya berseri. Diraih oleh orang yang baru menceburkan dirinya itu tangan anak tersebut. Dibawanya ketepi sungai, dan duduklah anak itu. Satu sandalnya hanyut dan dikejarlah oleh penyelamat tersebut. Wajah anak tersebut tampak ketakutan namun bahagia, bahwa dirinya masih bisa sekali lagi melewati harinya di dunia. Tak hentinya dia mengucap syukur. Terimakasihnya pada orang yang menyelamatkan dan pada temannya yang cepat mencari pertolongan, serta maaf karena dia ceroboh.
Anak itu kini terduduk, menyerahkan pancingan yang dilempar temannya kepada pemiliknya, kemudian menghindari duduk terlalu dekat dengan pinggiran. Dia tak mau sekali lagi menikmati dinginnya air sungai. Dia masih ingin memandang langit dari depan rumahnya.
Komentar
Posting Komentar